Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Teknologi Pengolahan Aspal Pada Masa Kejayaan Islam

Teknologi Pengolahan Aspal Pada Masa Kejayaan Islam




 

Ibarat langit dan bumi. Begitulah para sejarawan kerap menggambarkan perbedaan antara kota-kota di dunia Islam dengan Eropa di era kekhalifahan. Misalnya London dan Paris yang kini merupakan kota metropolis dunia. Pada masa kejayaan Islam dua kota tersebut hanyalah kota kumuh dengan jalanan becek yang penuh lumpur ketika hujan.

Kondisi itu sungguh berbeda dengan Baghdad dan Cordoba, dua metropolitan dunia saat itu. Sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam bukunya yang termasyhur, “History of Arab”, melukiskan jalan-jalan di kedua metropolis Islam itu begitu licin berlapiskan aspal. “Seni membuat jalan sungguh telah berkembang pesat di tanah-tanah islam”, ungkap Hitti. Menurutnya, bermil-mil jalan di Kota Cordoba yang merupakan pusat kekhalifahan Islam di Spanyol, begitu mulus dilapisi dengan aspal.Hal itu karena teknologi pengolahan aspal pada masa kejayaan Islam telah memberi pengaruh besar pada pembangunan jalan kota-kota di Eropa.

Sebuah inovasi dan pencapaian yang begitu tinggi yang belum terpikirkan peradaban Barat ketika itu. Masyarakat Barat baru mengenal pembangunan jalan berlapis aspal sekitar tujuh abad setelah peradaban Islam di Spanyol menerapkannya.

Baca juga : Ternyata, Sabun Adalah Warisan Peradaban Islam

Menurut catatan sejarah transportasi dunia, negara-negara di Eropa baru mulai membangun jalan pada abad ke 18 M. Insinyur pertamanya adalah Jhon Metcalfe. Pada 1717, dia membangun jalan di Yorkshire, Inggris sepanjang 180 mil. Ia membangun jalan dengan dilapisi batu dan belum menggunakan aspal. Kali pertama peradaban Barat mengenal jalan berlapis aspal adalah pada 1824 M. Pada tahun itu aspal mulai melapisi jalan Champs – Elysees di Paris, Perancis.

Sedangkan jalan beraspal modern di Amerika baru dibangun pada 1872. Adalah Edward de Smedt, imigran asal Belgia, lulusan Columbia University di New York yang membangun jalan beraspal pertama di Battery Park dan Fifth Avenue, New York City, serta Pennsylvania Avenue.Berikut adalah sejarah tentang teknologi pengolahan aspal pada masa kejayaan Islam.

 

Teknologi Pengolahan Aspal Pada Masa Kejayaan Islam

Sejak abad ke-8 M, peradapan muslim telah mampu mengolah dan mengelolah aspal. Zayn Bilkadi, seorang ahli kimia dalam tulisannya, “Bitumen A History”, memaparkan pertama kali aspal dikenal oleh bangsa Sumeria. Peradapan ini menyebut aspal sebagai esir dan orang Akkadia menamakannya iddu. Sedangkan orang Arab menyebutnya sayali, zift, atau qar. Sedangkan masyarakat Barat mengenalnya dengan nama bitumen atau asphalt. “Inilah produk minyak pertama yang pernah digunakan manusia”, papar Bilkadi. Sejak dulu, kata aspal telah menjadi primadona. Aspal pernah dikuasai oleh orang-orang Mesopotamia, digunakan peradapan Babilonia untuk membuat gunung buatan yang dikenal sebagai Menara Babel. Dan digunakan untuk merawat mumi oleh peradaban Mesir Kuno. Peradaban Islam yang mewarisi tehnologi pengolahan aspal, sempat menggunakannya untuk menyembuhkan penyakit kulit dan luka-luka. Hingga akhirnya, peradaban Islam mengenalkan aspal untuk melapisi jalan dengan pengolahan aspal yang lebih modern.

Ilmuwan Islam yang mengembangkan tehnologi pengolahan aspal adalah Ali ibnu Al-Abbas Al-Majusi pada 950 M. Ia sudah mampu menghasilkan minyak dari endapan aspal yang hitam. Caranya, papar Al-Majusi, endapan aspal itu dipanaskan sampai mendidih di atas ketel. Lalu untuk mendapatkan cairan minyak, ia memeras endapan aspal itu sampai mengeluarkan minyak.

Selain itu, saintis dari Mesir Al-Mas’udi juga mengembangkan teknologi pengolahan aspal menjadi minyak. Al-Mas’udi menguasai teknologi pengolahan aspal menjadi minyak melalui proses yang mirip dengan teknik pemecahan modern (cracking techniques). Dia menggunakan dua kendi berlapis yang dipisahkan oleh kasa atau ayakan. Kendi bagian atas diisi dengan aspal lalu dipanaskan dengan api. Hasilnya, cairan minyak menetes ke kasa dan ditampung di dasar kendi.

Metode pengolahan minyak dari aspal lainnya yang ditemukan insinyur Muslim adalah teknik distilasi yang disebut taqrir. Teknik ini dikembangkan oleh Al-Razi. Berbekal pengetahuan itulah, pada abad ke-12 peradaban Islam sudah menguasai proses pembuatan minyak tanah atau naphtha.

Menurut Bilkadi, mulai abad ke-12 minyak tanah sudah dijual secara besar-besaran. Di jalan-jalan di sekitar Damaskus, papar dia, banyak orang yang menjual minyak tanah. Di Mesir pun, minyak tanah pada abad itu telah digunakan secara besar-besaran. Dalam sebuah naskah klasik disebutkan bahwa dalam sehari rumah-rumah di Mesir menghabiskan sekitar 100 ton minyak untuk bahan bakar penerangan.

Penggunaan aspal menjadi pelapis jalan pun terus dikembangkan para saintis Muslim. Untuk melapisi jalan, para insinyur Muslim di Nebukadnezar menggunakan campuran aspal dengan pasir. Campuran pasir dan aspal untuk melapisi jalan itu di Irak dikenal dengan nama ghir.

Kosmografer Muslim, Al-Qazwini dalam bukunya, “Aja’ib Al-Buldan” (Negeri Ajaib) menuturkan, ada dua macam campuran aspal dan pasir yang digunakan untuk melapisi jalan. Jika digunakan untuk mengaspal jalan, campuran itu dikenal sangat kuat dan lekat.

Ali Ibnu Abbas Al-Majusi, Penemu Teknik Pengolahan Aspal

Haly Abbas, itulah nama panggilan Ali Ibnu Al-Majusi di Barat. Dokter dan psikolog muslim ini turut berjasa dalam mengembangkan teknologi pengolahan aspal menjadi minyak.

Sebelum masuk Islam, Al-Majusi adalah penganut Zoroaster yang menyembah api. Al-Majusi berhasil mengolah aspal menjadi minyak yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dan luka kulit. Ia memeras endapan aspal yang dipanaskan untuk diambil airnya.

Ilmuwan dari Persia itu cukup dikenal di Barat lewat buah pikirnya yang berjudul “Kitab Al-Maliki” serta “Kitab Kamil As-Sina’a At-Tibbiyya” (Complete Book of the Medical Art). Buku teks kedokteran dan psikologi yang ditulisnya itu sangat berpengaruh di Barat. Dalam karyanya itu, Al-Majusi menekankan pentingnya hubungan yang sehat antara dokter dan pasien. Hubungan itu, kata dia sangat penting dalam etika kedokteran. Kitab itu juga mengupas secara detail metodologi ilmiah yang berkaitan dengan riset biomedikal modern. Secara khusus, sang ilmuwan juga mengupas seluk beluk masalah psikologi dalam bukunya “The Complete Art of Medicine”.

Inilah salah satu bukti lagi bahwa peradaban Islam adalah perintis dalam berbagai penemuan dan teknologi. Sebuah kebanggaan yang seharusnya bisa menumbuhkan kembali semangat untuk bangkit mencapai kejayaan.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2018 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better