Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Syarat Agar Menjadi Wali Allah

Syarat Agar Menjadi Wali Allah




Siapakah wali-wali Allah itu ? Apa saja syarat agar menjadi wali Allah ? Cerita tentang wali sepertinya tidak jauh dengan pandangan tentang kesaktian dan pertapaan. Seorang wali dipercaya bisa melakukan hal-hal yang ajaib, seperti dapat menghilang, berjalan di atas air, bahkan bisa mengubah suatu benda menjadi bentuk lain. Seperti merubah buah aren bisa menjadi emas. Sementara itu, melakukan pertapaan dipercaya sebagai cara dan tempat untuk mendapatkan ilmu kesaktian.Tetapi apakah itu sebai syarat agar menjadi wali Allah ?

Sebagian lagi mengatakan bahwa seeorang wali selalu menjauh dari keramaian orang banyak dan memilih tempat-tempat sunyi seperti di goa, di bawah pohon yang tinggi dan rindang, bahkan di atas batu yang besar. Di tempat-tempat seperti itulah ia menyendiri dengan konsentrasi yang tinggi agar tidak dapat digoda oleh godaan-godaan, baik lahir maupun batin. Bahkan, ada cerita tentang orang yang dipercayai sebagai wali, yaitu bahwa ia setiap salat Jumat tidak hadir di masjid yang biasa dipakai untuk salat Jumat. Ia tetap tinggal di kamar rumahnya. Ketika ditanyakan, kenapa ia tidak salat Jumat? Maka jawabannya, secara lahir tidak hadir di masjid, namun secara batin ia melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram Makkah.Demikianlah cerita-cerita yang sudah cukup popular di telinga masyarakat tentang kehebatan dan kesaktian wali yang tidak bisa dijangkau oleh orang biasa.

Syarat Agar Menjadi Wali Allah

Cerita tentang kesaktian-kesaktian tentang wali seperti diatas memang sudah telanjur dipercayai sebagian besar masyarakat Islam dari jaman dahulu.Namun semua yang terlihat pada lahiriahnya, yang menunjukkan kelebihan-kelebihan diluar jangkauan manusia biasa tidaklah cukup menjadi syarat bahwa orang tersebut dikatakan sebagai wali Allah.Lalu apa sebenarnya syarat agar menjadi wali Allah ? Secara garis besar, jika memperhatikan firman Allah dalam Alquran, maka persyaratan seseorang  dapat dikatakan sebagai Wali Allah adalah sebagai berikut:

Seperti dalam surat Yunus ayat 62-64, Allah berfirman yang artinya, “Ingatlah! Bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu adalah mereka yang tidak punya rasa takut dan tidak juga bersedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka sudah mendapatkan berita gembira baik di dunia maupun untuk nanti di akhirat, sama sekali tidak akan ada pergantian terhadap keputusan Allah dan itulah keberuntungan yang besar.”

Di dalam sebuah hadis qudsi, Allah juga menjelaskan tentang persyaratan yang harus dilakukan dan juga pertolongan Allah kepada wali-wali-Nya.Dalam hadis qudsi itu Allah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Aku akan mengumumkan perang dengan orang itu. Tidakkah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan amal-amal yang Aku senangi, di antara amal-amal yang Aku fardukan dan tidaklah juga hamba-Ku itu terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengamalkan amalan-amalan tambahan, yaitu nafilah (sunat) sehingga Aku mencintainya dan apabila Aku sudah mencintainya, Akulah yang memelihara pendengarannya ketika ia mendengar, Akulah yang memelihara penglihatannya ketika ia melihat, Akulah yang memelihara tangannya ketika ia berbuat, dan Akulah yang memelihara kakinya ketika ia berjalan. Apabila ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya dan apabila ia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya.”

Petunjuk Allah SWT. tentang tahapan-tahapan amal yang harus dikerjakan oleh semua hamba-Nya yang ingin sampai ke derajat “wali” sangatlah jelas. Bisa dikerjakan oleh semua orang yang beriman. Tahapan amal yang pertama, mengerjakan amal-amal yang difardukan oleh Allah dengan sempurna. Shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, zakat, dan haji. Semua yang fardhu itu dikerjakan secara tertib, tepat waktu, tepat kaifiyat (cara), kekhusyukannya dan keikhlasannya.

Kemudian, jika ibadah fardu sudah dikerjakan dengan baik, ditambah dengan mengerjakan amal-amal yang nafilah (sunat) secara istiqomah. Karena setiap amal yang difardukan selalu disertai amal yang nafilah (sunat). Ada salat sunnah, saum (puasa) sunnah, sedekah, sebagai sunah dari zakat dan sunah haji, yaitu umrah. Jika semua amalan yang sunat itu sudah dikerjakan secara mudawamah (kontinu) dan istiqomah sebagai tambahan bagi yang fardu, amal-amal itulah yang bisa mengantarkan ke derajat “wali Allah”

Jika Allah SWT telah memuliakan hambaNya dan mengangkat derajatnya menjadi wali-Nya, Allah akan membelanya dari segala gangguan musuh-musuhnya yang mengancam padanya. Jika sudah ada pembelaan dari Allah, maka tidak butuh lagi ilmu kesaktian, kepasrahanlah yang membuatnya selalu mendapat pertolongan Allah.Apabila semua sudah di serahkan kepada Allah, maka Allah akan memberi perlindungan. Jika sudah mendapat pembelaan dari Allah, seorang “wali” Allah tidak akan punya rasa takut dan tidak merasa sedih. Tidak takut untuk mengatakan yang benar, sekalipun di hadapan penguasa yang zalim dan tidak juga bersedih untuk meratapi kegagalan dalam perjuangan.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better