Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Sejarah Sastra Sufi Di Nusantara

Sejarah Sastra Sufi Di Nusantara




Sejarah Sastra Sufi Di Nusantara

Sejarah sastra sufi di nusantara di tandai dengan banyaknya hasil karya kesusastraan mereka yang terlihat dari corak budaya di Nusantara.Dalam sejarah islam, pada abad ke-14 – 18 M, para ahli tasawuf/sufi memegang peranan penting dalam penyebaran agama islam di nusantara.Peran mereka semakin kuat setelah jatuhnya kekuasaan kekhalifaan Baghdad dari penguasa Mongolia di tahun 1256 M, yang kemudian terjadi banyak pengungsian para kaum muslimin di Asia Selatan dan Asia Tenggara.Dalam masa yang cukup panjang itulah para sufi atau yang biasa disebut faqir, wali, guru sufi, ahli makrifat, pemimpin thoriqot, ahli suluk dan lain sebagainya, telah memberi warna perkembangan islam yang unik dan menjadi sejarah sastra sufi di nusantara.Mereka banyak menggunakan bahasa Melayu selain bahasa Arab, dalam menulis karya sastra dan karangan keilmuan.Mereka juga banyak menyadur karya-karya sastra Arab maupun Persia, seperti riwayat Nabi-nabi dan lainnya.Hal inilah yang menjadikan bahasa Melayu kian terkenal dan meluas di seluruh Nusantara.Sehingga bahasa Melayu menjadi bahasa yang popular digunakan dalam pergaulan dan karya-kaya bidang keilmuan sastra dan agama.

Pengaruh tasawuf telah meluas dalam kebudayaan masyarakat di Nusantara, khususnya mereka yang beragama Islam.hal ini terbukti dalam adat-istiadat masyarakat, seperti kesenian, upacara keagamaan, kesusastraan dan tradisi intelektual di masyarakat.Sejarah sastra sufi di Nusantara dapat dilihat dari budaya masyarakat Nusantara yang telah mendapat pengaruh banyak dari budaya dan tradisi para sufi atau ahli tasawuf.Pada fase-fase abad ke 13 – 17 M, para sufi yang lazim disebut faqir, telah memegang peranan penting di berbagai bidang kehidupan, hal ini yang menyebabkan perkembangan ajaran islam sangat pesat di Nusantara.

Artikel lain : Karya Sastra Sufi Di Tanah Jawa

Setelah menginjak abad ke 13 – 17 M, wilayah Asia tenggara memasuki fase akhir dari era penyebaran agama-agama besar di penjuruh dunia yang telah berlangsung sejak abad ke-5 M.Pada masa ini Islam telah muncul sebagai pemegang peran utama setelah surutnya penyebaran agama Hindu dan Budha yang disebabkan oleh surutnya higemoni politik mereka.Sedangkan agama Kristen datang setelah agama Islam telah berkembang pesat di Nusantara pada abad ke-16.Pada masa ini pula tasawuf telah menjadi cabang ilmu dalam Islam yang sangat menonjol serta ajaran ilmu-ilmu islam yang lainnya yang penting telah diserap, termasuk ilmu falsafah.Sehingga muncul para cendikiawan yang menjadi pelopor sastra islam dalam bahasa Jawa dan Melayu dan juga penulisan kitab.

Perkembangan islam yang sangat pesat di Nusantara pada masa ini sangat dipengaruhi oleh peran para sufi dari segi keagamaan dan intelektual yang masuk melalui kebudayaan-kebudayaan masyarakat.Proses Islamisasi, kesusastraan “ tutur dan tulis “ sangat besar peranannya, sehingga menjadi pembentuk pandangan hidup, yang menciptakan symbol budaya islam, landasan adat istiadat, mewarnai tradisi baru dan intelektual.Mereka mengajarkan masyarakat melalui karya-karya yang mereka tulis dan nasehat-nasehat yang mereka tuturkan dalam pengajian-pengajian, sehingga tersebarlah nilai-nilai Islam dalam budaya dan kehidupan masyarakat.

Sejarah sastra sufi di Nusantara dapat kita lihat dalam sebuah buku Al-Attas yang menyatakan bahwa masyarakat Nusantara memeluk Islam secara formal pertama pada abad ke-12 – 14 M, kemudian bertahap lagi pada masa yang sangat menentukan yaitu pada abad ke-15 – 17 M, yang merupakan pendalaman ilmu islam dikalangan masyarakat yang menyentuh inti ruhani ajaran Islam, unsure-unsur rasional dan intelektual.Yang sebelumnya hanya terpaku pada aturan formal tentang peribadatan, kemudian berlanjut pada penafsiran di bidang teologi rasional (ilmu kalam) dan metafisika falsafah (tasawuf).Pada masa periode tahapan ini karya-karya sastra mereka memegang peran penting, yang diperkenalkan melalui ungkapan budaya local sehingga mudah dipahami.Sastra Melayu yang bercorak Islami mencapai puncak dalam perkembangannya.Karya-karya melayu pada abad ke-18 menjadi cermin dan model dalam pengembangan sastra Islam di wilayah lain di Nusantara.

Apabila kita melihat khazanah sastra Islam di nusantara, maka peranan sufi sangat mneonjol pada masa itu, yang dipenuhi oleh karya yang corak dan bentuknya dari pemikiran, gagasan dan estetika yang hidup dikalangan para ahli tasawuf.Namun jejak tasawuf dalam sejarah sastra sufi di Nusantara banyak dikaburkan dan dianggap tidak penting.Dalam buku-buku sastra Melayu, karya-karya sufi yang tidak hanya pada risalah tasawuf dan lainnya, tidak mendapatkan ruang yang luas sebagai sastra tasawuf dengan literature yang sangat sedikit, sehingga muncul kesan bahwa sumbangan pemikiran para sufi sangat sedikit pengaruhnya bagi perkembangan kesusastraan Nusantara.

 

1 comment on this postSubmit yours
  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai sastra, menurut saya studi mengenai sastra merupakan ilmu yang
    menarik juga banyak hal yang bisa dipelajari di dalam pembelajaran bahasa.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai beberapa sastra
    yang bisa anda kunjungi di Dunia Sastra

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better