Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Sejarah Penerjemahan Al-Qur’an

Sejarah Penerjemahan Al-Qur'an




 

Sebagai agama yang yang tak hanya dianut bangsa-bangsa di Semenanjung Arab, tentu akan sulit bagi umat Islam dari non-Arab untuk bisa memahami isi dan makna ajaran yang terkandung dalam kitab suci Al Quran. Atas dasar pertimbangan itulah, Al Quran kemudian diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia. “Yang melatarbelakangi dari sejarah penerjemahan Al-Qur’an adalah untuk memenuhi kebutuhan kamu muslim non-Arab dalam memahami isi dan kandungan Al Quran, khususnya yang tinggal di belahan timur dunia, seperti Persia, Turki, dan Asia Tenggara”, papar Guru Besar Sastra Arab pada Universitas Islam Madinah, Syekh Tamir Salum.

Sejarah Penerjemahan Al-Qur’an

Upaya-upaya penerjemahan Al Quran ke dalam bahasa lain sebelumnya telah dirintis sejak abad ke-12 M oleh orang-orang Eropa. Karenanya, tak mengherankan jika sebagian besar dari terjemahannya Al Quran ini ditemukan dalam berbagai bahasa Eropa.

El-Hurr dalam tulisannya yang berjudul “Barat dan Al Quran: Antara Ilmu dan Tendensi” mengungkapkan, mayoritas penerjemahan Al Quran oleh orang-orang Eropa tersebut dilakukan berdasarkan pesanan gereja ataupun penguasa-penguasa Barat.

Namun, tujuan penerjemahan Al Quran yang dilakukan oleh orang-orang barat non muslim itu dalam kenyataan di lapangan berbeda dengan tujuan penerjemahan Al Quran yang dilakukan oleh umat islam sendiri. Lalu, apa sebenarnya tujuan penerjemahan Al Quran yang dilakukan oleh bangsa barat ini?

Al Quran adalah satu-satunya kitab langit yang tidak mengalami perubahan dari sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW hingga hari ini. Bagi umat islam, Al Quran merupakan dasar hukum dan nilai sekaligus sumber keilmuan. Al Quran telah meletakkan batu bangunan peradaban kurang lebih seperempat penduduk bumi yang mayoritas berada di daerah timur.

Bagi bangsa-bangsa barat, tentu saja Al Quran merupakan pintu masuk untuk memahami pemikiran umat islam.Atas dasar inilah, kemudian sejak dini barat melakukan usaha penerjemahan Al Quran ke dalam berbagai bahasa Eropa dengan gencar. Kekuasaan kekhalifahan islam yang merambah hingga ke wilayah Andalusia, Spanyol membuat agama islam menjadi agama yang berkembang pesat di wilayah barat benua Eropa.

Perkembangan pesat yang dialami agama islam, menurut el-Hurr, mendorong seorang Kepala biara Gereja Cluny, Perancis bernama Petrus Agung atau Peter The Venerable untuk menerjemahkan Al Quran demi mendapatkan pengetahuan tentang kitab suci umat islam itu. Namun amat disayangkan, sebagian besar dari terjemahan Al Quran yang dilakukan ke dalam berbagai bahasa Eropa ini jauh dari hakikat yang sesungguhnya terkandung dalam teks asli Al Quran.

Dalam kitab “Tarikh Harakat Al-Istisyraq” dipaparkan bahwa Abraham Hanclemann (1652-1692), seorang pendeta di Hamburg, misalnya, telah menerjemahkan redaksi Al Quran tanpa menyertakan penjelasan apa pun. “Penyebaran kitab (terjemahan) ini sama sekali bukan karena tendensi agama, melainkan sekadar mempelajari bahasa Arab, selain (mempelajari) titik-titik kelemahan Al Quran melalui media terjemahan ini dapat kita ungkap”, demikian alasan yang pernah disampaikan oleh Hanclemann.

Untuk penerjemahan Al Quran ke dalam bahasa Melayu, sebelumnya telah dilakukan sejak pertengahan abad ke-17 M. Adalah Abdul Ra’uf Fansuri, seorang ulama dari Singkel (sekarang masuk wilayah Aceh) yang pertama kali menerjemahkan Al Quran secara lengkap di bumi Nusantara. Meski terjemahannya boleh disebut kurang sempurna dari tinjauan ilmu bahasa Indonesia modern, Abdul Ra’uf Fansuri bisa dikatakan sebagai tokoh perintis penerjemahan Al Quran bahasa Indonesia. Setelah munculnya terjemahan Al Quran dalam bahasa Indonesia hingga abad ke-19 M.

Abdul Ra’uf menimba ilmu di Arab Saudi sejak 1640 dan kembali ke tanah air pada 1661. Ulama terkemuka itu lalu menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Melayu dalam tafsir “Tarjuman Al-Mustafid”. Tafsir Al Quran pertama di nusantara itu disambut umat islam yang bersemangat mempelajari dan memahami isi ajaran Al Quran. Selain di Indonesia, tafsir tersebut juga digunakan oleh umat islam di Singapura dan Malaysia. Tafsir itu pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul (Matba’ah al-usmaniah, 1302 H/1884 M dan 1324 H/ 1906 M), Kairo (Sulaiman al-Maragi), serta Makkah (al-Amiriah).

Sedikitnya ada dua pendapat besar mengenai tafsir yang ditulis Abdul Ra’uf itu :

Pertama, orientalis asal Belanda Snouck Hurgronje menganggap bahwa terjemah tersebut lebih mirip sebagai terjemahan tafsir Al-Baidawi. Rinkes, murid Hurgronje, menambahkan bahwa selain sebagai terjemahan tafsir Al-Baidawi, karya ulama asal Aceh itu juga mencakup terjemahan tafsir Jalalain.

Kedua, Riddel dan Harun memastikan bahwa Tarjuman Al-Mustafid adalah terjemahan tafsir Jalalain, hanya pada bagian tertentu saja tafsir tersebut memanfaatkan tafsir Al-Baidawi dan tafsir Al-Khanzin. Abdul Ra’uf, menurut kedua ahli itu, cenderung memilih tafsir Jalalain. Secara emosional, Singkel memiliki runtutan sanad itu dapat ditelusuri melalui gurunya, baik Al-Qusyasyi maupun Al-Kurani. Abdul Ra’uf menulis terjemahan Al Quran ke dalam bahasa Melayu dalam perlindungan dan fasilitas penguasaan Aceh, ketika itu. Tarjuman Mustafid karya Abdul Ra’uf merupakan salah satu petunjuk besar dalam sejarah keilmuan islam, khususnya tafsir di tanah Melayu.

Penerjemahan generasi kedua di Indonesia muncul pada pertengahan tahun 60-an. Baru di awal abad ke-20 M, sejumlah karya-karya terjemahan Al Quran lengkap dengan tafsirnya dibuat. Di antara karya-karya tersebut adalah “Al-Furqan” oleh A Hassan dari Bandung (1028), “Tafsir Hidayatur Rahman” oleh KH Munawar Chalil, “Tafsir Quran Indonesia” oleh Mahmud Yunus (1935), “Tafsir Al-Quran” oleh H Zainuddin Hamid cs (1959), “Tafsir Al-Qur’anil Hakim” oleh HM Kasim Bakry cs (1960).

Munculnya terjemah atau tafsir lengkap, menandai lahirnya generasi ketiga pada tahun 70-an. Tafsir generasi ini biasanya memberi pengantar metodologis serta indeks yang akan lebih memperluas wacana masing-masing.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2018 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better