Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Sejarah Islam Di Negeri Tirai Bambu

Sejarah Islam Di Negeri Tirai Bambu




 

Sejarah Islam di negeri Tirai Bambu tak berjarak lama dari era Rasulullah, yakni sekitar abad ketujuh. Sejarah mencatatnya, tapi banyak legenda yang diyakini Muslim Cina mengenai siapa pembawa bendera Islam kali pertama ke negeri mereka.

Ada yang percaya, dia adalah salah seorang paman Rasulullah dan makamnya berada di Kanton. Yang lain, percaya penyebar dakwah Islam ke Cina merupakan empat utusan Rasulullah yang datang saat era dinasti Tang. Mereka membagi tugas dakwah di Guang zhou, Yang Zhou, dan dua lainnya di Quan Zhou. Ada pula empat makam yang diyakini sebagai makam mereka. Hingga kini, makam-makam tersebut pun sangat dihormati Muslim Cina.

Namun legenda-legenda tersebut hanya menjadi dongeng sebelum tidur, mengingat tak ada bukti kuat yang membenarkannya. Para cendekiawan Cina mencatat, Islam datang ke Cina saat era kekhalifahan Usman bin Affan. Tak jelas siapa yang diutus ke negri panda tersebut. Tapi, beberapa menyebutkan, sahabat Rasulullah Sa’ad bin Abi Waqqas yang diutus khalifah untuk berdakwah di sana. Saat itu, dinasti Tang (618-905 M) yang tengah berkuasa didaratan cina.

Mengenai kapan tahun pengutusan Usman tersebut, menurut Chen Yuen dalam A Brief Study of the Introduction of Islam to Cina, Islam masuk pada 30 Hijriyah atau 651 M. Kiaisar yang memimpin dari dinasti Tang saat itu adalah Kaisar Yung Wei atau Yong Hui.

Tapi menurut Thomas Arnold dalam The Spread of Islam in the World, dalam riwayat dinasti Tang Tua disebutkan bahwa negara Da Si, yakni penyebutan kekhalifahan Islam oleh Cina, mengirim utusan kehormatan ke istana Tang pada 651 saat kepemimpinan Kaisar Gao Zong.

Menurut Thomas, hubungan antara Arab dan Cina saat itu sebatas hubungan diplomatik. Sejak saat itu, keduanya saling mengirimkan utusan, sehingga terjalin hubungan persahabatan yang erat. Setuju dengan pendapat Thomas, Tan Ta Sen dalam bukunya Cheng Ho; Penyebar Islam dari Cina ke Nusantara menuturkan, kedatangan Islam ke Cina merupakan produk sampingan dari perdagangan dan ikatan diplomatik Cina-Arab semasa dinasti Tang dan dinasti Song. Kontak Cina dengan bangsa Arab sejak abad ketujuh memang berbeda atau bertolak belakang dengan pendekatan proaktif dan agresif di dunia Arab dan Asia Tengah. “Tidak ada upaya yang dikerahkan oleh para pendakwah dan penguasa Arab, seperti halnya khalifah”, ujar Tan.

Dalam perkembangannya, banyak saudagar Arab yang singgah, bahkan bermukim di Cina. Mereka kemudian membentuk komunitas-komunitas muslim di pusat-pusat perdagangan. Perkembangan Islam semakin menjadi ketika era kekhalifahan Abbasiyyah. Menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, kala itu perdagangan mulai dikuasai Muslimin. Para pedagang muslim di bagian timur pun telah banyak yang berhasil menjelajah Cina. Bahkan menurut Hitti, hubungan pedagangan Arab-Cina telah terbentuk sejak abad ketiga Hijriyah.

Menurut Tan, sejak abad ketujuh hingga abad ke-13, komunitas Muslim tumbuh sangat pesat. Mereka kemudian tersebar di berbagai wilayah Cina, seperti  Chang-An (Xi-An), Yang Zhou, Ningpo, dan kota-kota pelabuhan Guangzhou dan Quanzhou di Cina hingga Champa di semenanjung Indocina. Bahkan di kota Guang Zhou, menurut Farnce Wood dalam Hugh Kennedy dalam The Great Arab Conquests, terdapat sebuah masjid tertua Cina yang setiap Jumat jamaahnya mencapai 2.000 Muslim.

Mi shou Jiang dalam bukunya Islam in China menyebutkan, pada periode abad ketujuh hingga abad ke-13, jumlah muslimin Cina mencapai 20 jt jiwa. Angka tersebut pun terus mengalami perkembangan signifikan. Dakwah Islam pun mencapai Hongkong, Macau, dan Taiwan. Periode tersebut, yakni pada era dinasti Tang dan dinasti Song, dianggap sebagai periode pertama dan periode pesatnya Islam di negeri tembok raksasa.

Saat periode tersebut, menurut Jiang banyak pedagang, utusan militer, maupun utusan diplomatik yang membaur dengan warga setempat. Kemudian banyak terjadi pernikahan silang. Kehadiran muslimin tersebut pun tak dianggap ancaman. Warga Cina menganggap mereka datang karena urusan bisnis dan negara, bukan untuk kepentingan dakwah.Alhasil, kedatangan mereka dihormati, penguasa Cina juga memberi izin untuk mereka tinggal dan menetap di Cina.

 

Kompleksitas Islam Di Cina

Fahmi Huwaidi, pernah menulis sebuah buku yang berjudul Al-Islam fi as-Shin. Buku yang terbit di era 80-an menceritakan kisah ‘petualangannya’ ke negeri Tirai Bambu. Karya tersebut mencoba untuk memotret dinamika sekaligus menelusuri ‘jejak’ Islam di negara komunis ini.

Untuk misinya yang kedua, cukup sulit akibat minimnya data dan dokumentasi. Sebagiannya hilang, tak sedikit sengaja diberangus rezim yang berkuasa. Perspektif yang disajikan oleh tokoh senior koran al-Ahram Mesir itu cukup menggigit melalui kacamata sebagai jurnalis sekaligus seorang akademi yang pernah mengeyam bangku kuliah di Universitas Kairo.

Mengapa mesti membuka tulisan dengan karya seorang Fahmi Huwaidi? Diakui atau tidak,berbicara soal Islam di Cina atau bahkan Cina secara umum, tak bisa terlepas dari guratan Muslim Arab. Bahkan sebuah data menyebut, bangsa Eropa banyak mengenal Cina dari catatan-catatan petualang Muslim Arab yang telah dialihbahasakan. Kondisi ini sangat wajar. Mengingat Arab dan Persia ketika itu merupakan penghubung antara Cina dan dunia luar.

Proses dan pola kehadiran Islam di Cina pada dasarnya mempunyai banyak kesamaan dengan kedatangan agama Samawi tersebut di nusantara. Proses penyebarannya melalui jalan damai melalui jalur perdagangan dan budaya. Keterbukaan penduduk lokal terhadap Islam pun bukan hal gampang. Dalam tradisi Cina klasik, mereka mengenal slogan “tidak ada agama asing”. Ini tak hanya  berlaku atas Islam, tetapi juga ideologi ataupun keyakinan lainnya. Tapi di bawah hegemoni komunis, tekanan-tekanan terhadap komunitas muslim pun lebih terstruktur.

Pemerintah Cina pernah melarang warga muslim belajar agama di luar sejak 1937-1980. Sekalipun dijumpai beberapa mahasiswa asal Cina yang belajar di Timur Tengah, mayoritas mereka mengambil apesialisasi bahasa, yauitu jurusan bahasa Arab. Ini pun lantaran tugas mereka kelak untuk menempati posisi sebagai penerjemah di birokrasi.

Terisolasinya muslim Cina dari dunia luar, setidaknya berpengaruh pada tingkat pemahaman masyarakat muslim Cina akan islam itu sendiri. Mengusung misi dakwah secara institusional cukup sulit. Tak ada pilihan selain mendorong spirit berubah dari internal umat Islam Cina sendiri.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better