Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Puncak Keagungan Nikmat Dari Allah

 Puncak Keagungan Nikmat Dari Allah




 

“Apabila dirimu telah dibukakan jalan (menuju) ma’rifat kepada Allah, maka sungguh dengan kema’rifatan itu jangan engkau pedulikan amalanmu yang sedikit. Maka sesungguhnya Allah tidak membuka jalan kema’rifatan bagimu, kecuali hanya Dia menghendaki pengenalan kepadamu. Tidakkah engkau mengerti bahwasannya ma’rifat itu adalah anugerah Allah kepadamu, sedangkan amal perbuatanmu itu hanya merupakan sebagai imbalan jasa kepadanya, kalau begitu dimanakah sekarang letak perbandingan antara imbalan jasamu kepadanya dengan apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu”. (Syaikh Ibnu ‘Athoi’Illah)

Setiap manusia sudah pasti sangat mengharapkan karunia dan nikmat yang besar dari Allah SWT.Untuk mencapai puncak keagungan nikmat dari Allah tentunya kita harus selalu istiqomah dan selalu bersyukur terhadap nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sejak dalam kandungan.Hal ini tentu tidak mungkin dapat terwujud dengan mudah, namun bukan pula suatu yang sulit jika Allah telah menghendaki untuk memberi karunia puncak keagungan nikmat dari Allah kepada hamba-Nya.

Sudah menjadi fitrahnya, bahwa orang yang beriman selalu ingin mengenal Tuhan yang telah menciptakan dan melindunginya. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang dapat mengenal-Nya. Hanya orang-orang tertentu yang telah mendapatkan jalan menuju ma’rifat kepada Allahsajalah yang dapat mengenal Allah lewat penglihatan mata hatinya. Dan ini adalah merupakan puncak keagungan nikmat dari Allah kepadanya.

Di dalam Al-Quran Surat Al-An’am ayat 75-79, bagaimana kisah Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhannya. Beliau telah berjumpa dengan bintang yang gemerlap, bulan yang indah, dan juga matahari yang sangat terang sinarnya. Mula-mula beliau menganggap bahwa yang dijumpai itu Tuhannya. Namun ketika mereka satu per satu tenggelma dan sirna, maka beliau berfikir, bahwa tidak mungkin Tuhan itu dapat tenggelam atau sirna. Akhirnya setelah mendapatkan sinar terang yang menerangi kalbunya, Nabi Ibrahim dapat mengenal Allah sebagai Tuhan yang telah menciptakan dirinya serta menciptakan alam dengan segala isinya.

Setelah mendapatkan jalan menuju ma’rifat kepada Allah tersebut jiwa Nabi Ibrahim menjadi tenang dan tenteram. Begitu juga dengan jiwa kaum mukmin lainnya yang telah mendapatkan jalan sebagaimana jalannya Nabi Ibrahim, merekapun merasakan ketenangan dan ketentraman yang tidak dialami oleh orang lain. Dan hal ini patutlah disyukuri dengan kesyukuran yang sebesar-besarnya.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2018 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better