Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Pejabat Yang Ideal Menurut Perspektif Islam

Pejabat Yang Ideal Menurut Perspektif Islam




 

Di dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tampil sekelompok orang yang mendapat kepercayaan rakyat untuk menjadi pemimpin dan menjabat sebagai petinggi ataupun pejabat di pemerintahan.

Mereka memiliki tugas dan ke wajiban sesuai dengan departemen masing-masing. Pejabat ialah pemegang amanat dari para masyarakat/rakyat. Mereka adalah khadim, para pelayan masyarakat. Lantas, bagaimanakah pejabat yang ideal menurut perspektif Islam ?

 

Pejabat Yang Ideal Menurut Perspektif Islam

Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada, dalam Ensiklopedia Adab Islam, menurut Al Quran dab As sunah, menyebutkan beberapa etika dan barometer untuk mengukur ideal atau tidaknya seorang pejabat. Baik etika ataupun parameter itu, sekaligus menjadi kriteria dan syarat yang harus dikerjakan pejabat supaya mendapatkan  predikat aparat yang baik dan bertanggungjawab.

Syekh Nada pun menambahkan, bahwa Allah menetapkan sejumlah hukum syariat itu sebagai kode etik dan adab dalam pemerintahan yang mesti dipraktikkan agar kepemimpinan tidak lantas menjadi malapetaka.

Poin pertama yang ia garisbawahi ialah niat dan motif dibalik pelaksanaan tugas dan kewajibannya. Niat mendasar seorang pejabat ialah semata-mata menegakkan nilai-nilai luhur yang ditetapkan Allah untuk kemanusiaan. Perkara yang kedua, menurutnya selayaknya pejabat pemerintah tidak berambisi dan meminta posisi jabatan.

Syekh Nada menyebut, biasanya ambisi itu kerap mengalahkan hati nurani dan rambu-rambu kepatutan yang diajarkan agama. Segala cara tak jarang akan ditempuh agar keinginannya tercapai. Atas dasar inilah maka Rasulullah  SAW melarangnya.

Hadist Bukhari dari Abu Hurairah RA, menegaskan akan larangan memburu dan mengemis jabatan. “Kalian akan berambisi unuk menjadi penguasa sementara hal itu akan membuat kalian menyesal di hari kiamat kelak. Sungguh hal itu (ibarat) sebak-baik susuan dan sejelek-jelek penyapihan”. Riwayat lain bahkan dengan jelas melarang meminta jabatan. Larangan itu disampaikan Rasulullah ke Abdurrahman bin Samurah.

Etika ke tiga, menurut Syekh Nada, ialah sikap adil antar sesama manusia. Tanpa berlaku diskriminatif terhadap suatu kelompok. Perlakuan adil seorang pejabat bisa berupa putusan dan kebijakan yang tidak sentimen dan memihak satu golongan dengan menafikan pihak lainnya. Ada banyak dalil yang bisa dijadikan dasar untuk etika ini. Diantaranya, QS an-Nisaa ayat 58, al-Maidah ayat 8, dan surat Shaaq ayat 26.

Beberapa riwayat hadist juga menegaskan pentingnya berbuat adil itu. Misalnya hadist-hadist tentang ganjaran bagi para pelaku adil. Ganjaran yang diberikan yang dimaksud seperti naungan dari Allah saat kiamat dan posisi bagi siapa pun yang adil tak terkecuali para pejabat berupa penempatan di mimbar yang terbuat dari unsur cahaya (HR Muslim dari Abdullah bin Amr). Adab yang keempat ialah bersikap ramah terhadap rakyat.

Karakter pejabat yang disegani ialah yang bersikap ramah terhadap masyarakat sipil. Tidak membeda-bedakan satu sama lain. Bentuk keramahan itu ialah siap menerima aduan dan aspirasi warganya. Termasuk kala pejabat yang bersangkutan telah pulang di kediaman. Ia memiliki tanggung jawab moral untuk membuka pintu rumahnya buat mereka yang membutuhkan.

“Tidaklah seorang pemimpin atau seorang penguasa menutup pintunya dari orang-orang yang memiliki kebutuhan, keperluan, serta orang-orang fakir, melainkan Allah akan menutup pintu langit dari keperluan, kebutuhan, dan hajatnya”. (HR Ahmad dan Turmudzi dari Amr bin Murrah)

Adab yang kelima, berhati-hatilah pada hadiah yang rentan dikategorikan sebagai gratifikasi. Syekh Nada berani memastikan bila ada segelintir orang yang memberikan hadiah kepada penguasa atau pejabat negara, hampir bisa dipastikan dibalik pemberian mereka itu tersimpan maksud tertentu. Minimal agar pejabat yang bersangkutan memiliki kedekatan personal. Atas dasar inilah maka Rasulullah bersabda, “Hadiah yang diberikan kepada seorang pemimpin adalah pengkhianatan”. (HR Thabrani dari Ibnu Abbas)

 

Staf  ahli yang berkompeten

Syekh Nada menjelaskan, di antara faktor penentu kesuksesan seorang pejabat menjalankan amanatnya, erat kaitannya dengan kompetensi staf ahli. Keberadaan tenaga profesional itu, biasanya ialah memberikan bantuan perencanaan, arahan, dan nasehat-nasehat terkait kebijakan tertentu. Posisi ini sangat urgen. Saking pentingnya, peran seorang staf ahli, seorang pejabat bisa tergelincir akibat sepak terjang staf penasehat itu.

Rasulullah bersabda, “Tidak ada Nabi yang Allah utus dan tidak pula ada seorang pemimpin yang Dia angkat kecuali mereka mempunyai dua jenis teman dekat, teman yang menyuruhnya untuk berbuat baik serta selalu membantunya dalam berbuat baik dan teman yang menyuruhnya berbuat jahat serta selalu mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang selamat adalah orang yang dijaga Allah.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better