Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Mengenal Allah Melalui Cahaya Hati

Mengenal Allah Melalui Cahaya Hati




 

“Bagaimana hati itu dapat memancarkan cahaya, padahal dalam hatinya terlukis semua gambar-gambar kepada selain Allah. Atau bagaimana orang dapat berangkat menghadap kepada Allah, padahal ia selalu terikat oleh syahwat (keinginan) atau bagaimana orang dapat mempuyai keinginan kuat agar dapat masuk ke hadirat Allah, padahal hatinya belum suci dari janabah kelalaiannya. Atau bagaimana bisa berharap agar mengerti terhadap rahasia-rahasia yang halus, padahal ia belum bertaubat untuk menebus kesalahan-kesalahannya”. (Syaikh Ibnu ‘Athoi’Illah)

Mengenal Allah Melalui Cahaya Hati

Setiap mukmin tentu berharap bahwa hatinya dapat memancarkan cahaya sehingga dapat mengenal Allah melalui cahaya hati tersebut. Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua hati bisa memancarkan cahaya. Hal ini disebabkan karena hati tersebut masih tercemar dan tertutup oleh lukisan-lukisan keindahan dunia dengan segala kemewahannya.

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan oleh seseorang agar terpancar cahaya dari hatinya agar dapat mengenal Allah melalui cahaya hati ? Yang harus dilakukan agar kita dapat mengenal Allah melalui cahaya hati adalah :

1. Menghapus lukisan-lukisan dunia yang menghalang-halangi hati dari mengingat Allah.

2. Bersihkan jiwa dari kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Firman Allah dalam Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 17 :
“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

3. Bertaqwa kepada Allah dan berusaha mencari ilmu untuk mempelajari perkara-perkara yang ghoib. Sabda Rasulullah S.A.W. :
“Barangsiapa yang mengerjakan sesuatu yang sudah diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya pengetahuan sesuatu yang belum diketahui”.

4. Mengendalikan hawa nafsu yang selalu mendorong manusia untuk berbuat maksiat.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2018 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better