Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Menanam Sikap Ikhlas Dalam Beramal

Menanam Sikap Ikhlas Dalam Beramal




 

“Tanamlah wujudmu (dirimu) di dalam bumi kerendahan, maka sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam itu tentu hasilnya tidak akan sempurna”. (Syaikh Ibnu ‘Athoi’Illah)

Sebagaimana diterangkan pada artikel sebelumnya, bahwa setiap amal harus dilakukan dengan ikhlas. Tanpa adanya keikhlasan, amal perbuatan seseorang bisa dikatakan riya’. Kalau sudah demikian, maka bukan pahala yang diperoleh, tetapi justru malah mendapatkan dosa.Menanam sikap ikhlas dalam beramal menjadi suatu kewajiban, bahkan ikhlas merupakan rukun wajib tiap-tiap amal perbuatan.

Allah mengetahui apa yang tersembunyi dibalik setiap amal perbuatan.Buah dari setiap amal perbuatan tergantung nilai keikhlasan seseorang.Namun menanam sikap ikhlas dalam beramal  untuk menjadi insan yang muhlishin juga membutuhkan proses dan tahapan.Karena sudah menjadi karakter manusia, mengharapkan suatu balasan dari apa yang telah diperbuat.

Rasulullah S.A.W. pernah bersabda, bahwa diantara tujuh orang yang mendapat naungan di hari yang tiada naungan selain naungan-Nya adalah apabila seorang laki-laki bershodaqoh dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 264 Allah berfirman, yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (hati orang yang kau beri sedekah), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang seperti ini adalah seperti batu licin yang di atasnya terdapat tanah, lalu batu tersebut ditimpa hujan deras, lalu menjadikan dia (batu itu) bersih (tidak bertanah)”.

Sabda Rasulullah S.A.W. yang di riwayatkan Mu’adz bin Jabal menyebutkan, bahwa sedikit saja sifat riya’ sudah cukup menjerumuskan seseorang kedalam dosa syirik.
Karena itu hendaklah kita senantiasa berlindung kepada Allah dari mempunyai sifat riya’. Dalam sebuah riwayat yang lain di jelaskan, bahwa riya’ itu ibarat api dalam sekam. Sedikit demi sedikit ia akan membakar dan menghanguskan amal perbuatan yang kita kerjakan.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2018 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better