Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Manusia Tidak Bisa Lari Dari Ujian Allah

Manusia Tidak Bisa Lari Dari Ujian Allah




 

“Janganlah kamu merasa heran seandainya terjadi kesulitan-kesulitan yang selama kamu hidup di dunia ini. Maka sesungguhnya dunia ini tidak diciptakan, melainkan telah menjadi hak atas sifatnya (yang penuh dengan cobaan) serta telah menjadi kepastian sifatnya”. (Syaikh Ibnu ‘Atho’Illah)

Dalam artikel terdahulu telah diterangkan, bahwa segala macam keadaan di dunia ini, baik yang berupa kebaikan maupun keburukan, adalah merupakan ujian dari Allah.Manusia tidak bisa lari dari ujian Allah, bagi seseorang yang mendapatkan ujian berupa kebaikan, maka ia dituntut untuk melaksanakan hak kebaikannya itu. Begitu pula bagi mereka yang mendapatkan ujian berupa keburukan, maka ia di tuntut untuk sabar dan tawakkal, sebagaimana yang diperintahkan Allah lewat Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 10 yang artinya :
“Bahwasanya hanyalah orang-orang yang sabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (hitungan)”.

Demikian, Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang sabar. Dalam hal ini, kita patut pula memperhatikan dan merenungkan perkataan Khalifah Umar bin Khattab sebagai berikut :
“Jika kamu bersabar, tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapatkan pahala. Dan jika kamu mengeluh, juga tetap berlalu ketentuan Allah dan kamu mendapatkan dosa (akibat ketidaksabaranmu)”.

Seringkali ketidaksabaran manusia dalam menerima ujian adalah ketika apa yang diharapkan dan diinginkan tidak terpenuhi. Dalam hal ini, kita perlu merenungkan kata-kata Abu Thurobi berikut ini agar kita tidak termasuk kedalam golongan orang yang suka mengeluh dan tidak sabar. Kata-kata tersebut adalah :

“Wahai manusia, kalian mencintai tiga perkara, sedangkan tiga perkara itu bukanlah milik kalian”. Yaitu :
a. Kalian mencintai jiwa, sedangkan jiwa itu milik hawa nafsunya.
b. Kalian mencintai ruh, sedangkan ruh itu milik Allah.
c. Kalian mencintai harta, sedangkan harta itu milik ahli waris.

Dan kata-kata selanjutnya :

“Ketahuilah bahwa kalian mencari dan membutuhkan dua perkara, sedangkan dua perkara itu tidaklah kalian temukan di dunia ini, melainkan kalian temukan di akhirat, yaitu kesenangan dan kebahagiaan yang bersifat abadi”.

Karena itu jika seandainya kita mengharapkan atau menginginkan sesuatu, kemudian apa yang kita harapkan dan kita inginkan itu tidak terpenuhi, maka hendaknya kita bersabar. Karena hal itu mungkin belum menjadi milik kita.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better