Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Manfaat Beruzlah Atau Menyendiri

Manfaat Beruzlah Atau Menyendiri




 

“Tidak ada sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat pada hati seseorang hanyalah uzlah (mengasingkan diri). Sebab dengan adanya uzlah itu (manusia) bisa berfikir secara luas”. (Syaikh Ibnu ‘Athoi’Illah)

Manfaat Beruzlah Atau Menyendiri

Yang dimaksud beruzlah di sini adalah menyendiri atau mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat agar tercapai ketenangan hati dan pikiran yang jernih yang tidak tercemari oleh bergelimangnya nafsu duniawi.

Manfaat beruzlah atau menyendiri sangat baik dalam menjaga lurusnya hati agar tidak banyak tergoda oleh nafsu-nafsu duniawi yang dapat memalingkan tujuan.Pengaruh pergaulan sangat besar peranannya dalam perkembangan jiwa seseorang. Karena itu kita harus pandai-pandai memilih kawan untuk bergaul.Pada jaman sekarang ini, pengaruh lingkungan sangat kuat, maka dari itu hanya mereka yang dapat mengendalikan diri dan selalu ingat kepada Allah-lah yang dapat terhindar dari kerusakan hati.

Sholeh bin Abdil Qudus, seorang sastrawan arab pernah berkata : “Takutlah kamu berteman dengan orang jahat karena kejahatan itu bisa menular, sebagaimana menularnya penyakit ke dalam tubuh seseorang”.

Walaupun begitu, tidak semua pergaulan harus dihindari. Bahkan kepada orang-orang yang beriman, yang bertaqwa, orang alim, dan kepada sanak famili kita patut mempergaulinya dengan baik. Karena bergaul dengan mereka-mereka itu kita dapat mengambil manfaat dan pengetahuan atau pelajaran yang belum kita ketahui.
Setiap kita melakukan sesuatu pasti ada tujuannya. Demikian dengan uzlah ini. Dan tujuan utama dari uzlah tersebut adalah agar kita dapat berfikir dengan tenang dalam merenungkan apa arti hidup ini sehingga bisa lebih mendekatkan diri kepada Dzat Pencipta Seluruh Alam ini atau yang dalam istilah agama disebut dengan tafakkur.

Sehubungan dengan tafakkur ini, seorang ulama besar bernama Hasan Al-Basyri pernah berkata : “Tafakkur itu seperti cermin yang dapat menunjukkan kebaikanmu dan kejelekanmu. Dengan cermin itu pula manusia dapat melihat keagungan dan kebesaran Allah Yang Maha Tinggi. Ia bertafakkur mengenai semua tanda-tanda yang diciptakan Allah. Dan dengan cermin itu pula manusia dapat melihat tanda-tanda Allah baik yang jelas maupun yang samar. Maka dengan cara itu ia dapat mengambil manfaat dari berbagai macam tingkah laku yang luhur, sehingga bersihlah penyakit hatinya (dari sifat-sifat tercela). Sehingga ia berlaku lurus di dalam taat kepada Tuhannya”.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2018 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better