Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Mana Yang Lebih Utama Dalam Shalat?

Mana Yang Lebih Utama Dalam Shalat?




 

Pertanyaan :

Asy-Syeikh al-Munawwar ‘Abdul Kabir bin ‘Abdullah bertanya, “Dalam shalat sunnah, manakah yang lebih utama: lama sewaktu berdiri, ruku, dan sujud atau lebih utama tidak berlama-lama dalam beridri, ruku, dan sujud dengan maksud memperbanyak jumlah rakaat?”

Jawaban :

Habib Abdullah al Haddad r.a menjawab: Diriwayatkan bahwa, Rasulullah saw apabila shalat malam beliau melamakan berdiri, ruku’, dan sujud. Dan beliau shalat malam tidak lebih dari 11 atau 13 rakaat. Adapun mana yang lebih utama dalam shalat? : melamakan waktu berdiri atau waktu ruku’ dan sujud, ulama rodhiyallohu ‘anhum berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat memanjangkan berdiri lebih utama, yang lain berpendapat melamakan ruku’ dan sujud lebih utama. Imam Ghazali dan beberapa ulama lain berpendapat, bahwa gerakan shalat yang lebih utama untuk dipanjangkan waktunya adalah yang didalamnya terdapat lebih banyak kekhusyuan dan kehadiran hati (hudhur). Keadaan ini tentunya berbeda-beda bagi setiap manusia. (An-Nafaisul Uluwiyyah: 26-27)

Menurut hadist yang diriwayatkan Hudhaifah RA, Mana yang lebih utama dalam shalat? adalah sebagai berikut :

Hudhaifah RA berkata, “Suatu malam aku shalat (sunnah) bersama Nabi SAW.Beliau membaca surat Al-Baqarah (setelah Al-Fatihah). Aku kira pada ayat keseratus beliau akan ruku’, ternyata beliau meneruskan bacaannya.Kemudian aku mengira setelah selesai surat Al-Baqarah beliau akan ruku’, namun beliau melanjutkan dengan surat An-Nisa’ hingga selesai, lalu surat Ali Imran dengan tartil. Ketika membaca ayat yang menyebutkan kesucian Allah, beliau bertasbih. Jika membaca ayat yang di dalamnya terdapat anjuran untuk meminta kepada Allah, beliau memohon. Ketika membaca ayat yang di dalamnya terdapat ancaman, beliau berlindung. Setelah itu beliau ruku’ dan membaca :

سُبْحَا نَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ

Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung

Lama ruku’nya hampir sama dengan lama berdirinya. Kemudian beliau membaca :

سَمِعَ اللّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلكَ الْحَمْدُ

Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya. Tuhanku, segala puji hanyalah untuk-Mu

Sembari bergerak untuk i’tidal. Lama i’tidalnya hampir sama dengan lama ruku’nya. Beliau kemudian bersujud dan membaca :

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْاءَ عْلَى

Maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi

Lama sujudnya hampir sama dengan lama berdirinya.” ( HR Muslim)

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better