Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Jejak Penyebaran Islam Di Bali

Jejak Penyebaran Islam Di Bali




 

Muslim di Bali memang masih minoritas. Berdasarkan data Majelis Ulama Indonesia (MUI), pertumbuhannya hanya sekitar satu persen dalam tiga tahun walaupun survei lainnya menunjukkan pertumbuhan muslim di Bali cukup besar hingga 45 persen dari total penduduk Bali.

Jejak Penyebaran Islam Di Bali

Jejak penyebaran Islam di Bali dilakukan oleh orang Jawa untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel. Sejarah dimulai saat raja yang memerintah selama kurun waktu 1480-1550 itu berkunjung ke Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

Sekembalinya dari Jawa, Raja Dalem Waturenggong diantar oleh 40 orang pengawal yang beragama Islam. Ke 40 pengawal tersebut akhirnya diijinkan menetap di Bali. Para pengawal muslim ini lalu dipekerjakan sebagai abdi dalem Kerajaan Gelgel. Mereka menempati satu pemukiman dan membangun masjid yang diberi nama Masjid Gelgel. Masjid tertua di Bali.

“Keberadaan Islam di Bali semakin diakui ketika putri Raja Pemecutan III yang menguasai Kerajaan Badung menikah dengan seorang muslim bernama Raden Sosroningrat”, ujar tokoh Islam di Kampung Jawa, Bali, Mukhtar Baasyir.

Raden Sosroningrat adalah seorang ningrat di Kerajaan Mataram (Yogyakarta). Dia dilibatkan Kerajaan Badung dalam pertempuran melawan Puri Mengwi.

Berkat jasanya, Kerajaan Bandung berhasil menaklukkan Mengwi. Atas kemenangan ini, Raden Sosroningrat dinikahkan dengan putri Raja Pemecutan III bernama Anak Agung Ayu Rai.

Raden Sosroningrat memboyong istrinya ke Madura. Di sana Anak Agung Ayu Rai resmi memeluk Islam. Tetapimalang, ketika kembali ke Bali, Anak Agung Ayu Rai dibunuh saat sholat. “Dia dikira ngeleak”, ujar Baasyir.

Ngeleak adalah kegiatan mistis yang sangat diharamkan di Bali. Mereka ngeleak biasanya mengadakan ritualnya pada saat matahari terbenam dan dengan menggunakan pakaian serba putih.

Saat itu, Anak Agung Ayu Rai sedang menunaikan sholat Maghrib dan menggunakan mukena putih. Karena minimnya pengetahuan masyarakat Bali tentang Islam masa itu, mereka mengira Anak Agung Ayu Rai sedang ngeleak.

Apalagi mereka salah mendengar ketika wanita itu mengucapkan ‘Allahu Akbar’. “Mereka kira dia sedang membaca lakar mekeber, yaitu mantra yang diucapkan saat ngeleak”, ujarnya.

Akibat kesalahpahaman itu sang putri raja pun terbunuh. Sejak itu, pada 1891 pemukiman orang-orang Islam di Badung berkembang pesat. Oleh Raja Pemecutan, mereka diberi tanah sebagai cara untuk mengenang anaknya dan membalas jasa Raden Sosroningrat.

Raja Pemecutan juga memberikan hadiah berupa pemukiman kepada masyarakat Islam Bugis di Serangan, Suwung, Tuban, dan Angantiga. Bahkan sang raja membantu masyarakat Islam di tempat tersebut dalam mendirikan masjid.
Sementara itu, sejumlah sejarawan yang melacak keberadaan Islam di Bali melalui tradisi lisan menyimpulkan bahwa komunitas muslim telah ada di Bali, tepatnya di wilayah Gianjar, sejak akhir abad ke-19.

Komunitas yang tertua di wilayah Gianjar terdapat di Kampung Sindhu, Keramas, yang terletak 5 km ke arah selatan kota Gianjar dan 20 km ke arah timur Denpasar.

Ada juga komunitas yang baru terbentuk pasca 1965 di Semebaung Gianjar, juga di lingkungan seniman di daerah Ubud, yang disinyalir dimulai sekitar 1980an.

Peran Orang Bugis

Sejumlah catatan sejarah lainnya menyebutkan, penyebaran Islam di Bali lebih banyak dilakukan melalui perdagangan.

Islam juga menyebar melalui jalur perkawinan, yaitu perkawinan antara orang-orang Bugis dan orang-orang Bali.
Orang-orang Bugis telah muncul di Selat Bali sekitar pertengahan abad ke-17, yang dalam sumber daerah disebut wong sunantara, wong duradesa, atau wong nusantara, yang artinya orang asing (Bugis, Cina, dan Arab).
Orang-orang Bugis yang datang ke Bali tersebar di beberapa tempat, seperti Jembrana, Bali Utara (Buleleng), dan Bali Selatan (Badung).

Di Jembrana pada abad ke-17 orang-orang Bugis telah memegang peranan penting dalam proses integrasi kebudayaan. Sejarah bahkan mencatat adanya seorang keluarga raja I Gusti Ngurah Pancoran yang telah masuk Islam karena pergaulannya yang akrab dengan orang-orang Bugis yang bermukim di Loloan.
Selain Bugis, sejarah juga mencatat adanya penyebaran Islam yang dilakukan oleh pedagang Cina. Salah satu tokoh yang terkenal adalah The Kwan Lie yang merupakan saudagar Tiongkok dan bergelar Syekh Abdulqodir Mochammad.

The Kwan Lie juga dikenal ahli dalam bidang pengobatan. Dia menyebarkan Islam di Bali pada pertengahan abad XVI dengan mendaratkan perahu niaganya di pesisir-pesisir pantai kawasan Bali Utara.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better