Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Bukti Ilmiah Kebenaran Al-Qur’an Tentang Siklus Air

Bukti Ilmiah Kebenaran Al-Qur'an Tentang Siklus Air




 

Dalam surat Al-Waqiah : 68-69, Allah berfirman, “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?”

Dalam ayat lain, disebutkan, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dialah yang menurunkan air dari langit…” (Al-Baqarah:22)

Sudah ribuan tahun yang lalu Al-Qur’an diturunkan kepada Rasullah, namun baru di era berkembangnya ilmu pengetahuan, penelitian para ilmuwan menjadi bukti ilmiah kebenaran Al-Qur’an tentang siklus air.Dalam ayat tersebut, tegas dikatakan bahwa air yang kita minum adalah air yang diturunkan dari langit. Hasil penelitian menyebutkan bahwa air tawar yang kita minum berasal dari hujan. Air tersebut turun melalui siklus peredarannya, sehingga tersedia air tawar di hulu pegunungan. Awalnya ia berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, dan kabut.

Baca juga : Proses Terjadinya Hujan Di Dalam Al-Qur’an

Hasil deteksi radar cuaca menunjukkan bahwa pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap, yaitu “bahan baku” hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk, hingga curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap ini dijelaskan dalam Al-Quran yang memberikan informasi tepat mengenai pembentukan hujan, dalam QS Ar-Rum : 48.

Al-Quran tidak langsung menjelaskan air yang kita minum berasal dari sungai, sumur atau danau. Tapi, ia diturunkan berupa air hujan. Dan, dari hujan inilah terbentuk sumber-sumber air yang akan mengaliri sungai-sungai , mengisi sumur-sumur, dan memenuhi danau. Tanpa air hujan, siklus air di planet bumi ini tidak akan berjalan. Secara ilmiah, siklus ini dinamakan siklus hidrologi.

Sedangkan mengenai air laut, Allah berfirman dalam QS Al-Waqiah : 70, yang artinya, “Kalau kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”

Allah memilih kata ‘asin’ dalam ayat tersebut, karena masih berhubungan dengan siklus air. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa air sungai membawa bermacam-macam mineral ke laut, salah satunya adalah garam. Ketika air laut menguap, hanya airnya saja yang menguap, sedangkan garam tetap tertinggal. Melalui proses siklus yang berulang selama jutaan tahun, maka air laut menjadi asin seperti sekarang.

Bukti ilmiah kebenaran Al-Qur’an tentang siklus air tersebut membuktikan bahwa ayat-ayat yang disampaikan Rasul yang hidup di jazirah Arab yang kering kerontang adalah benar-benar firman Allah. Di tengah kondisi geografis yang didominasi padang pasir yang sangat jarang disiram air hujan, beliau bisa memberikan penjelasan sangat ilmiah tentang siklus air. Padahal, orang disekitarnya hanya mengenal air minum yang mereka konsumsi berasal dari sumur atau sungai Nil yang menjadi sumber air utama bangsa Arab waktu itu.

 

2 total comments on this postSubmit yours
  1. Luar biasa kebesaran Allah. Mari jaga bumi agar tetap hijau.

  2. Benar2 MAha Kuasanya Allah. Tidak ada kekuatan yg bisa menandingginya.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better