Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal ? Tiba-tiba ia meniupnya lalu berkata,"Katakan kepadaku kemana perginya, maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya."

Baitul Hikmah Di Kota Bagdad

Baitul Hikmah Di Kota Bagdad




Baitul Hikmah di kota Bagdad merupakan perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Institusi ini merupakan kelanjutan dari instiusi serupa di masa imperium Sasania Persia yang bernama Jundhisapur Academy. Namun berbeda dari institusi pada masa Sasania yang hanya menyimpan puisi-puisi dan cerita-cerita untuk raja, pada masa Abbasiyah institusi ini diperluas penggunaannya. Bait al-Hikmah atau Graha Kebijaksanaan yang sudah dirintis oleh khalifah Harun al-Rasyid, menjadi pusat segala kegiatan keilmuan.

Pada masa Harun al-Rasyid, institusi ini bernama khizanah al-Hikmah (Khazanah Kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Di lembaga ini, baik muslim maupun non muslim bekerja mengalihbahasakan naskah kuno dan menyusun berbagai penjelasan serta komentarnya. Di lembaga ini, Abu Yusuf Ya’qub al-Kindi (801-869) menggali dan menyiarkan kembali filsafat Yunani, sekaligus memperluas horizon pemikiran umat Islam. Perhatian keilmuannya mencakup bidang yang sangat luas. Tidak saja masalah logika, tetapi juga sejarah alam, meteorologi serta kimia bahkan kemiliteran.

Baca juga : Universitas Pertama Dan Tertua Di Dunia

Sejak 815 M al-Makmun mengembangkan lembaga ini. Pada masa Makmun inilah, ilmu pengetahuan dan intelektual mencapai puncaknya. Bait al-Hikmah digunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang di dapat dari Persia, Bizantium, bahkan Ethiopia dan India. Di institusi ini, al-Makmun mempekerjakan Muhammad ibn Musa al-Hawarizmi yang ahli di bidang aljabar dan astronomi. Orang-orang Persia juga dipekerjakan di Bait al-Hikmah. Direktur Bait al-Hikmah sendiri adalah seorang Nasionalis Persia dan ahli Pahlewi, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan al-Makmun, Bait al-Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan tetapi juga sebagai pusat kegiatan studi dan riset astronomi dan matematika.

Pada 832 M, al-Makmun menjadikan Bait al-Hikmah di Baghdad sebagai akademi pertama, lengkap dengan teropong bintang, perpustakaan, dan lembaga penerjemahan. Kepala akademi ini yang pertama adalah Yahya ibn Musawaih (777-857), murid Gibril ibn Bakhtisyu, kemudian diangkat Hunain ibn Ishaq, murid Yahya sebagai ketua kedua.

Pasca Makmun, penerjemahan berjalan terus bahkan tidak hanya menjadi urusan istana, tetapi telah menjadi usaha pribadi oleh orang yang gemar dan mencintai ilmu, misalnya Muhammad, Ahmad, dan al-Hasan anak-anak Musa Ibn Syakir yang telah menafkahkan sebagian besar hartanya untuk penerjemahan buku-buku. Sementara itu, Musa telah menerjemahkan ke dalam bahasa Arab buku-buku karangan Plato, Aristoteles, dan lain-lain.

Kegiatan kaum muslimin bukan hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan (penjelasan), dan melakukan tahqiq (pengeditan). Pada mulanya muncul dalam bentuk karya tulis yang ringkas, lalu dalam wujud yang lebih luas dan dipadukan dalam berbagai pemikiran dan petikan, analisis dan kritik yang disusun dalam bentuk bab dan pasal. Dengan kepekaan mereka, hasil kritik dan analisis itu memancing lahirnya teori-teori baru sebagai hasil renungan mereka sendiri. Misalnya apa yang telah dilakukan oleh Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi dengan memisahkan aljabar dan ilmu hisab yang pada akhirnya menjadi ilmu tersendiri secara sistematis.

Pembentukan lembaga Baitul Hikmah disebabkan oleh faktor-faktor obyektif sebagai berikut:

  • Melimpahnya kekayaan negara dan tingginya apresiasi Khalifah al-Makmun terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Al-Makmun mempunyai selera pribadi yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan (filsafat, kedokteran, astronomi, dan lain-lain), dan seni musik. Bersatunya ‘dana’ dengan ‘selera’ ini melahirkan ‘political will’ yang ternyata mendapat sambutan yang positif dari para pembantunya dan dari masyarakat.
  • Pada saat itu kawasan Irak (mesopotamia) dan sekitarnya telah memiliki tradisi keilmuan yang tinggi yang berasal dari warisan peradaban masa lampau. Di sana telah ada daerah-daerah kantong dimana ilmu-ilmu pengetahuan orang-orang kuno telah dipelajari lama secara turun temurun. Warisan peradaban masa lampau ini masuk ke kawasan Persia, diantaranya dibawa oleh para imigran. Misalnya pada tahun 529, datang gelombang imigran dan ‘lulusan’ Athena yang terusir dan akhirnya masuk kawasan Persia. Dalam hal ini, tidak dapat diabaikan jasa besar dari Chosrus Nushirwan (tahun 531-579), yang akhirnya bisa menjadikan kawasan tersebut sebagai sentra-sentra ilmu pengetahuan yang penting.
  • Gondhesaphur adalah salah satu yang terpenting. Kota di propinsi Khuzistan ini sangat populer dengan ilmu kedokterannya. Warga kota ini telah mampu mengembangkan metode-metode pengobatan yang lebih dekat daripada metode India dan Yunani. Disamping melalui para imigran, warisan peradapan kuno juga masuk ke kawasan Persia akibat interaksi dengan dunia luar selama berabad-abad. Karena kawasan Irak (Mesopotamia) memang telah mempunyai rentang sejarah peradapan yang tua.
  • Adanya apresiasi yang tinggi dari kebanyakan anggota masyarakat (dari berbagai lapisan sosial) terhadap kegiatan keilmuan, yang menyebabkan mereka bisa bekerja bahu membahu satu sama lain tanpa mengalami beban psikologis yang disebabkan oleh perbedaan etnis, agama, status sosial, dan lain sebagainya. Di sini profesionalitas dijunjung tinggi dengan sikap terbuka dan fair. Sehingga tidak mengherankan jiwa waktu itu, karena kualitasnya, orang-orang etnis non Arab dan non muslim banyak sekali perannya. Mereka bisa menjalankan tugas dengan tenang meskipun yang memerintahkan adalah kaisar (khalifah) muslim.

Motif utama berdirinya lembaga Baitul Hikmah dimaksudkan untuk menggalakkan dan mengkoordinir kegiatan pencarian dan penerjemahan karya-karya klasik dari warisan intelektual Yunani, Persia, Mesir, dan lain-lain ke dalam bahasa Arab, khususnya bermanfaat bagi umat Islam. Salah seorang yang paling berperan, Hunayn bin Ishaq, mengadakan perjalanan ke Alexandria dan singgah pula di Syiria dan Palestina untuk mencari karya-karya kuno tersebut.

Menurut Dr.Oumar Faroukh, faktor-faktor yang mendorong umat Islam melakukan kegiatan penerjemah dan transfer ilmu-ilmu kuno adalah:

  • Keinginan untuk menguasai ilmu-ilmu yang belum dimiliki.
  • Legitimasi dan dorongan ayat-ayat Al Quran (serta ajaran Islam secara keseluruhan) untuk menguasai ilmu pengetahuan.

Bahwa kemajuan ilmu pengetahuan merupakan konsekuensi dari peningkatan kemakmuran dan kemajuan ekonomi.

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Jawab Pertanyaan Ini :

Sufistik © 2017 All Rights Reserved

Perjalanan Ruhani Menuju Ilahi

Designed by wpshower

Powered by WordPress

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better